Menerawang

Hari ini berjalan seperti biasa, tapi ada satu hal yang sangat di garisbawah di pertebal di cetak miring 

terjadi hari ini.

apa kalian percaya dengan seseorang yang bisa menerawang kalian ? 

menerawang seperti apa kalian sebenarnya? menerawang masa depan ?

aku adalah manusia yang tidak terlalu suka tentang ramal-meramal dan nrawang-menerawang.

bukan, bukan kkarena musyrik bukan karena tidak percaya.

sederhana, 

aku cuma berpaku pada “let universe suprise me” apalagi kalau perihal menerawang masa depan. 

“kamu gak pingin sar tahu masa depan kamu kayak apa yah siapa tahu bagus kan bisa diaminin?” 

itu pertanyaan yang sering ditanyakan saat aku menolak ajakan teman untuk diramal masa depannya.

buatku, aku lebih suka memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat itu memang terjadi, ketimbang memikirkan sesuatu yang sebetulnya kita sendiri belum tahu itu terjadi atau tidak.

jadi ini bukan tidak percaya, tapi keraguan. mungkin.

dan ketika kita tahu seperti masa depan kita setelah selesai diramal, jika itu baik maka kita akan suka mengaitkan itu dengan hal-hal lain.

dan kita menjadi tidak sabar kapan itu akan terjadi (ya ini terjadi ketika ketika ramalannya baik 🙂 )

 

Tapi hari ini berbeda, 

bukan penerawangan tentang seperti apa masa depan, jodoh, melahirkan, sukses dan bla blanya itu.

bukan.

hari ini, penerawangan dilakukan gratis. bahkan terkesan dipaksakan. 

Selesai mengikuti seminar Socio-Act di gedung teknik sipil, seorang satpam tiba-tiba mendatangiku.

tiba-tiba dia menanyakan namaku dan menyalamiku, cara bersalaman bapak ini “so firm” 

dan tertiba dia menerawangku,

dan hasil dari penerawangannya adalah 

 

“Kamu orangnya lebih mengutamakan logika daripada hati, kamu gak begitu memikirkan tentang percintaan ya ? “

“iya pak”

“ya itu, karena kamu selalu menggunakan logika. tapi ada dua alasannya kenapa kamu kayak gitu 

satu kamu pernah disakati dan yang kedua kamu mau fokus jadi sukses dan punya financial yang baik “‘

“……….” sambil menyengitkan dahi 

“hahah iya pak iya hahahah”

lalu aku ijin untuk beranjak pergi.

satu hal yang pasti, itu sebenarnya mengerikan karena aku sama sekali tidak tahu siapa bapak itu, oh aku tahu dia satpam. 

ya dia itu satpam.

tap setelah aku diterawang seperti itu, aku berpikir apa iya aku sebegitu menggunakan logika ketimbang perasaan ?

sungguh kelaki-lakian sekali rasanya.

kemudian, aku memastikan ke anak-anak yang cerita juga kalau mereka diterawang, dan tanggapan mereka sebagian ya membenarkan sebagian kurang tahu.

tapi satu hal yang kita setujui, bapaknya ngeri juga tiba-tiba kita pada fiterawang gitu aja, karena biasanya orang yang menerawang tidak menerawang tiba-tiba, biasanya mereka diminta dahulu. 

tapi ini ajaib, si penerawang dengan suka rela menerawang kita satu perssatu.

terlepas dari si bapak yang menerawang. 

aku hanya terpaku pada kalimat “kamu lebih menggunakan logika ketimbang hati (perasaan) “

mungkin ini memang ada benarnya, aku memang lebih menyukai semua yang bisa aku logika, karena cakupannya bisa dilogikakakan, bisa disusun secara sistematis dan yang terpenting bisa dipastikan.

dan ketika lebih menggunakan feeling akan berujung menyakitkan, lebih banyak yang tersalur ke pikiran. 

tapi untuk alasan nomer dua kenapa aku menggunakan logika dari si bapak, aku tetap akan benarkan dan tentunya wujudkan 🙂

“menjadi perempuan sukses dengan finasial yang baik”

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: